Refleksi PLP

Ya, seperti itulah faktanya, momen tersebut terjadi ketika saya telah mengaktualisasikan sekaligus memenuhi salah satu tri dharma perguruan tinggi dari ke tiga point secara utuh. Dan perlu kita ketahui bersama bahwa momen ini sangatlah dramatis dengan sekian banyaknya tantangan dan cobaan yang menimpa saya pada saat itu, akan tetapi saya sadar bahwa hidup ini akan terus meningkat, selaras dengan kemajuan pada diri saya pribadi, dari mulai aktivitas, sikon, keterampilan, kredibilitas, kompetensi, bakat, bahkan karir sekalipun. Maka dengan demikian saya sadar bahwa ujian dan tantangan pun akan sesuai dengan kemampuan dan bisa saya.

Tepatnya pada bulan agustus kita dilepaskan dari kampus tercinta, kampus yang menjadi tempat belajar, becanda riang gemberi, diskusi, bahkan tempat dimana saya mulai sadar bahwa persfektif atas problematika sosial itu tidak bisa dianalisa dengan satu disiplin ilmu saja, akan tetapi ia harus dikorelasikan dan dianalisa ke dalam disiplin ilmu yang lainnya. Saya, kamu, bahkan mereka yang katanya mempunyai jabatan, kekuasaan, uang dan hiangar binarnya duniawi, tidak bisa menghakimi bahkan sampe menjustifikasi dalam penyelesaian problematika, hanya dengan satu perfektif saja. Akan tetapi harus kaya akan bukti dan argumentatif.

Katika pasca pelepasan dari kampus tercinta selesai dilaksanakan dengan beberapa simbolis acara, saya dengan beberapa sahabat seperjuangan, memutuskan untuk segera mendiskusi terkait konsep, teknis, sistem, hierarki, bahkan sosial dan budaya meliputi culture di sekolah yang kami emban tanggung jawabnya. Agar semua tanggung jawab bisa terealisasikan dengan baik dan menghasilkan efek yang baik juga bagi peserta didik. Oleh karena itu gagasan yang dibangun diawal akan sangat objektif, selaras dengan culture lingkungan sekolah yang kita emban.

            Hari pertama, merupakan salah satu hari yang paling berkesan diantara beberapa hari dalam seminggu dan dua bulan totalnya. Aku dengan beberapa sahabatku sangat antusias sekali melihat siswa-siswa yang riang gembira dengan situasi mereka, walaupun bisa dikatakan bahagia itu memang sederhana, dan pastinya relatif. Momen tersebut mengingatkan aku ketika dulu ketika masih SLTA dan  semua tak terasa bisa sampai saat ini berprosesnya dalam disiplin ilmu pengetahuan bidang studi dan karir. Beberapa dari sahabat-sahabat bisa adaptif dengan siswa-siswa yang secara keseluruhan sangatlah heterogen dan unik tentunya.

            Begitu pun dengan aku yang waktu itu juga merasa bahwa apa yang mereka pernah rasakan saat ini, aku sudah dulu merasakannya, bahkan pernah mengalami lebih terpuruk dari mereka, yaitu siswa-siswa tersebut, maka dengan demikian sedikitnya aku bisa mengetahui motif mereka masing-masing dalam setiap prilaku yang telah diperbuat, terlepas itu baik atau pun buruk. Oleh karena itu aku bisa paham dan mengerti dengan apa yang terjadi pada dalam kelas atau pun diluar kelas sekalipun. Beberapa saat perdana masuk ke dalam salah satu kelas, situasi didalamnya mengingatkan ku ketika dimasa dulu yang penuh dengan haru dan tawa dengan teman-teman seperjuangan.

            Dalam kelas yang aku emban tersebut sangatlah asyik sekali, karena memang diawal pertemuan, kami sudah berkenal secara utuh dan tentunya sudah saling kenal satu dengan yang lainnya, maka dengan demikian kegiatn belajar mengajar bisa kondusif sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajarannya. Siswa yang benar-benar ingin belajar, pastinya bukan hanya sekedar diam mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh guru, akan tetapi mereka bisa berdiskusi dengan temannya berikut dengan memberi saran dan solusi terkait proses pembelajaran yang dilakukan dikelas tersebut.

            Dari segi kompetensi guru, media pembelajaran yang disajikan oleh guru, model dan metode yang direalisasikan oleh guru, sampai kedisiplinan yang guru contohkan kepada para siswa-siswanya. Aku yakin bahwasannya buah itu tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, istilah tersebut sangatlah pamiliar kita dengar, akan tetapi mayoritas orang hanya sekedar menempel saja dikepala, tidak dengan diimplementasikan ke kehidupan sehari-harinya, maka efek yang ditimbulkan hanya sebatas teori saja tanpa aksi nyata.

            Namun semua pengalaman manis ini akan segera berakhir dipekan ke delapan, dimana seluruh kegiatan belajar bersama dengan para siswa-siswa yang cerdas itu, harus selesai diambil waktu. Akan tetapi jiwa ini masih membara, mengingat bahwa ini merupakan awal dari banyaknya rintangan didepan nanti. Banyak sekali edukasi dan pengalaman yang aku dapatkan, pastinya semua itu akan menjadi ilmu pengetahuan guna menjadi insan yang berguna bagi nusa, bangsa dan negara.

 

“Jika engkau ingin mengetahui situasi dan kondisi dalam suatu negara, lihatlah ruang kelas disekolah yang ada dinegara tersebut”

Komentar