DIBALIK EUFORIA BUKA BERSAMA




DIBALIK EUFORIA BUKA BERSAMA : TINJAUAN ANALISIS BUDAYA DAN IRONI

Kronologi, Tradisi, Hingga Isi

Buka bersama sudah menjadi bagian yang sukar untuk ditanggalkan bagi kalangan masyarakat muslim, khususnya dinegara Indonesia pada saat bulan suci ramadan telah tiba. Bahkan acara buka bersama ini merupakan suatu kegiatan yang turun menurun dari dulu hingga sekarang, yang mana realitas tersebut akrab disebut dengan “budaya”. Akan tetapi dalam beberapa literatur, masih belum dipastikan awal mula, dimana, dan siapa yang menginisiasi daripada kegiatan buka bersama ini dilakukan.

Dilansir dari detiknews, Buka puasa ditetapkan menjadi warisan dunia tak benda (intangible cultural heritage) oleh UNESCO pada 2023. Iran, Turki, Azerbeijan, dan Uzbekistan adalah empat negara yang mengajukan iftar ke UNESCO untuk dikaji sebagai warisan dunia bukan benda tersebut. Sayangnya, Indonesia tidak termasuk negara pengusul, meskipun tradisi buka bersama, bahkan tradisi di bulan Ramadan di Indonesia, cukup kaya dan berwarna. Dikuatkan dengan argumen Moller dalam ramadan dijawa (2005), bahwa tradisi ramadan dijawa sudah direalisasikan dari sejak bulan sya’ban, yaitu kegiatan religius ziarah kubur,  hingga setelah ramadan berakhir diakhiri dengan kegiatan sosial halal bihalal, bahkan beliau menambahkan “Kita juga memiliki tradisi pulang kampung (mudik) sebagai konsekuensi berprosesnya masyarakat urban yang tinggal dan bekerja dikampung semasa kecilnya, hingga budaya ngabuburit yang semakin menambah ramadan di indonesia semakin bernuansa ujarnya”

Akan tetapi jika dianalisa daripada isi kegiatan tersebut, umumnya buka bersamanya hanya makan dan minum bersama dibulan suci ramadan, baik itu bersama keluarga, sanak sodara, teman seperjuangan, sampai dengan insitusi kelembagaan, yang dilakukan ketika waktu berbuka puasa telah tiba, lebih tepatnya ketika adzan maghrib berkumandang, namun terdapat pula kegiatan ini disandingkan kegiatan rohani dan sosial, seperti santunan anak yatim, nuzulul Qur’an, bagi-bagi takjil, pertemuan alumni, keluarga besar dan masih banyak lain sebagainya. Rasionalisasi disandingkannya buka bersama, tidak lain dan tidak bukan untuk menambah daya tarik masyarakat dan memobilisasi elemen yang terlibat dengan kegiatan mitra tersebut.

 

 Ekspetasi Menggapai Esensi Malah Menjadi Ironi

            Pada dasarnya secara umum mayoritas orang-orang menghadiri suatu acara adalah untuk mendapatkan esensi daripada acara tersebut, bukan hanya sekedar formalitas, moment dan eksistensinya saja, namun harus mendapatkan mendapatkan esensi daripada acara tersebut. Begitupun dengan acara buka bersama ini, pastinya terdapat banyak sekali esensi didalamnya, terutama dalam aspek sosial dan ekonomi. Dimana dalam aspek sosial secara keseluruhan kita mengenal dengan yang namanya silaturahmi dan aspek ekonomi kita mengenal dengan terminologi sedekah atau yang lebih akrab disebut dengan traktiran antar sesama.

            Yang mana ke dua point tersebut merupakan salah satu esensi dari sekian banyaknya esensi dalam kegiatan buka bersama tersebut, bahkan moment ini bisa jadi salah awal daripada kesuksesan antar sesama, saling bantu dan menguatkan, entah itu saling berbagi informasi lowongan pekerjaan, bakal calon jodoh, sampai dengan kolaboratif dalam sebuah projeck atau suatu pekerjaan.

            Namun alih-alih melakukan semua itu, akhir-akhir ini malah menjadi ajang flexing, konsumtif, dan penuh glamor, sebagaimana kita ketahui bersama fakta tersebut sangat mudah untuk kita jumpai bersama disekitar kita, sehingga tidak perlu bersusah payah untuk menemukannya, bahkan sebagaimana dikutip dari kanal media suara.com yang mana redaksinya adalah “Ironi Sidoarjo: Rakyat keluhkan jalan rusak, Pejabat asyik bukber glamor” dalam tajug berita tersebut, para pejabat publik malah asyik dengan acara buka bersama yang glamor  dengan dekorasi mewah dan busana bertema bollywood, terbukti dalam salah satu postingan pejabat tersebut terdapat beberapa dokumentasinya.

            Moment bukber tersebut sungguh sangat tidak menyentuh esensi sama sekali, disisi lain infrastruktur rusak dan rakyat yang sudah seharusnya mereka penuhi haknya untuk bisa menikmati akses jalan yang lancar dan nyaman, ini malah sebaliknya. Ironi ini bukan hanya sebagai kritik tajam atas sebuah moment, tapi sekaligus pengingat akan betapa pentingnya sebuah acara yang sebetulnya positif justru malah dibumbui dengan prilaku-prilaku negatif.


Komentar