Kebingungan Yang Harus Diadili

     Sudah beberapa saat ini, saya merasa harus menggoreskan kembali jari jemari saya ke dalam kata demi kata, kalimat satu dengan yang lainnya hingga menjadi satu narasi yang utuh dan komperhensif. Jujur saja goresan jari jemari saya ini jauh dari kata baik apalagi sempurna, jadi saya harap kritik dan sarannya sangat saya tunggu sekali dari para pembaca.

    Sudah lama sekali sebetulnya saya ingin menulis, sekaligus mengupas problematika ini, tidak lain dan tidak bukan hanya ingin menjadi manusia yang merdeka atas dirinya sendiri dan bisa bermanfaat bagi orang lain disekelilingnya. Maka dari itu semua yang saya tuangkan ke dalam tulisan ini hanyalah secercah ilmu dan pengetahuan subjektif saya, akan tetapi bukan tanpa referensi yang valid dan objektif pastinya, semua berasal dari pengalaman dan pelajaran yang saya alami.

    Sebagaimana stimulus diatas, judul yang saya berikan barangkali kurang menarik, bagi mereka yang over dalam ego sentris apalagi fanatik terhadap satu bidang keilmuan saja, atau bisa jadi mereka salah satu pelaku dari problematika yang saya akan bahas ini. Sekali lagi saya tegaskan bukan tanpa alasan saya memberi judul tersebut, akan tetapi saya akan mulai mengupas secara detail, kronologinya sekaligus problematika yang ada didalamnya.

    "Kebingunan Yang Harus Diadili" sangat jelas sekali waktu itu, hari dimana saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, orang-orang yang seakan-akan tidak mempunyai rasa bersalah, apalagi rasa empati yang muncul dari relung hatinya, padahal dia sadar bahwa, prilaku tersebut telah merugikan orang lain, bahkan ikut terlibat dalam kegelapan dosa yang kiranya dia anggap hanya hal sepele biasa yang sudah mangakar menjadi kebiasaan bahkan budaya disetiap hari-harinya. Secara gamblangnya problematika tersebut seperti halnya : Berbicara tapi tidak ada aksinya sedikitpun, bahkan prosesnya nol tanpa ada perjuangan dan pengorbanan sedikitpun. Ingin ada perubahan, tapi ia masih malas malasan, tidak ada pergerakan selangkah pun. Tau tempatnya, tapi masih berdiam dalam zona nyaman. Punya jabatan, tapi tak berbuah terhadap aktivitas sehari-harinya, pasalnya hal sepele pun masih ia lewatkan bahkan apatis dengan keadaan tersebut.

    Dari tulisan yang saya ungkapkan diatas, merupakan debu dari sekian banyaknya tanah yang telah kering terbawa angin, lebur menjadi lumpur oleh hujan dimusim kemarau. Oleh karena itu, saya sangat bingung sekali terhadap mereka-mereka yang tengah menjadi pelaku dari problematika diatas, disisi lain kebingungan saya ini harus diadili, dalam artian, saya harus mengupas secara detail  bahwa rasanya tidak pantas untuk dilakukan prilaku tersebut, apalagi menyangkut orang lain yang setiap harinya selalu berharap atas kemerdekaan atas dirinya sendiri, atau bahkan mereka-mereka yang haus akan kebenaran dan keadilan, akan tetapi dirinya sendiri masih menjadi budak atas ekspetasi yang terlalu naif dan ambisius terhadap gemerlapnya dunia.

    Kemudian bila kita analisa dari persfektip norma sosial, dari problematika yang sudah saya ungkapkan diatas, secara tidak langsung sudah mencederai dirinya sendiri bahkan orang yang ada disekelilingnya, baik itu lingkungan, teman, atau bahkan reputasi pelaku tersebut. Maka dengan demikian rasanya kurang etis bagi mereka-mereka yang katanya pejabat, tokoh agama, sosial, atau pun kaum muda-mudi sendiri yang saya tengah ada difase saat ini sebagai kaum yang mengaku agen of change, intelegensia dan yang lainnya. Saya tegaskan sangat disayangkan dan tidak wajar, bahkan anak kecil pun tau, sebelum bermain itu harus ngerjain PR nya terlebih dahulu, karena itu lebih urgent, bahkan saya pun tau bahwa mereka-mereka yang  sukses secara moril ataupun materil, semua bermula dari hal yang dianggap sepele bahkan konyol sekali pun. 

    Maka dengan demikian ketika otak saya mulai berfikir perihal problematika ini, saya sangat bingung, sampai hati saya pun bertanya-tanya "Katanya pejabat, tapi ko korupsi" "Katanya ingin perubahan, tapi ko malas-malasan" "Katanya tau tempatnya, tapi ko tidak disimpan pada tempatnya" dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang nyeletuk dari hati saya saat itu, dan pastinya kebingungan tersebut harus diadili dengan moral, pengalaman, sekaligus ilmu yang telah mereka pelajari.

    Tapi semua yang saya ungkapkan diatas pernah dibantah oleh seorang sahabat saya, dia berkata "Ya semua orang juga tidak ada yang sempurna kawan, barangkali hal itu yang menjadi kekurangannya" gumam dia sembari bernada emosi dari ucapannya. Tapi saya tetap teguh dengan pemikirannya, dan ini bukan ego atau pun alibi, akan tetapi fakta nyata dilapangan, bahwa melakukan kebiasaan itu, tidak harus berfikir kritis terlebih dahulu, semua orang bisa melakukannya, bahkan bisa dikatakan ia  menghargai hidupnya yang telah tuhan anugrahkan. Dalam bentuk mengisinya dengan kegiatan dan aktivitas yang membuat ia progres dari semua proses yang ia tekuni dan sukai. 

    Alhasil kesimpulan yang saya dapatkan adalah kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan saling mengingatkan satu dengan yang lainnya, akan tetapi perihal sukses atau tidaknya kembali kepada orang yang kita ingatkan tersebut. Maka dengan demikian, apatis dan pesimis bukan merupakan pilihan dari seluruh alternatif penyelesaian atas masalah kehidupan, tapi tetaplah optimis dan beraksi tanpa harus takut akan cobaan dan ujian. jadikan cobaan dan ujian sebagai batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Gagal, kecewa, kesal, marah, stres, dan masih banyak yang lainnya, semua itu hal yang normatif, dan tidak perlu berlarut-larut didalamnya. 

    Seperti yang saya katakan disaat saya mulai menulis pembahasan ini, saya akan bahas secara konferhensip. Maka dengan demikian rasanya agak kurang ideal bila dalam pembahasan problematika ini, saya tidak mengungkapkan motif dari problematika yang telah terjadi.  Begitu pun halnya setiap moment  pasti memiliki sebab akibat dan tentunya pasti ada alasan yang valid dan tentunya rasional. Kita sudah mengetahuinya bahwa setiap orang tidak sudi, bila dirinya dirugikan oleh orang lain, namun pada faktanya yang namanya manusia ini bisa lebih kejam dan keji daripada binatang, apabila ia terjeremus oleh hawa nafsunya sendiri, bahkan yang lebih ironisnya lagi, mereka rela menumpahkan darah dan menghalalkan segala cara demi tercapainya ambisi mereka. 

    Oleh karena itu, yang saya temui dilingkungan sekitar saya sendiri, motif dari problematika tersebut tidak lain dan tidak bukan berawal dari kurangnya pendidikan yang intens dari orang tua mereka dan kontroling yang jauh dari kata evaluasi, edukasi dan kompetensi. Di samping itu juga, ada diantaranya mereka-mereka yang terkena imbasnya dari perceraian atau bahkan pertikaian dari orang tua mereka sendiri, sehingga mereka melakukan hal-hal yang tidak senonoh tersebut. Perlu saya tegaskan, bahwa  dari beberapa motif yang saya ungkapkan barusan, adalah motif yang mendominasi dan marak terjadi dilingkungan masyarakat. 

    Dari beberapa motif  diatas, saya berupaya untuk memberikan sekaligus mendiagnosanya bahwa, setiap problematika yang sifatnya sosial, dalam artian ia menyangkut orang lain atau bahkan orang banyak, perlu teknik problem solving yang disertai dengan aksi nyata, baik itu berupa teguran, perhatian, atau bahkan sedikit kekerasan yang bisa menyadarkan dan mendewasakan mereka-mereka yang sedang terjabak dalam kegelapan.

"Kebenaran Akan Terus Hidup"

"Panjang Umur Hal-hal Baik"

Komentar