Dari beberapa banyaknya kenangan yang orang-orang kenang dan tentunya sukar untuk dilupakan, salah satunya momen ketika sekolah, yang jenjangnya itu difase seragam putih abu. Ya begitulah faktanya, ada mayoritas yang ingin kembali ke fase itu, dimana saya pun salah satu orangnya, tapi semua hanya halusinasi dan mustahil pastinya. Kenangan manis saat itu masih sangat jelas sekali direlung hati, tersimpan rapih, layaknya buku-buku yang tersusun di suatu perpustakaan. Kenangannya itu ada yang bergenre bahagia, kecewa, bersemangat, haru, bahkan sedih sekalipun. Tapi saya yakin dan menyadarinya dengan sepenuh hati saya, semua momen tersebut banyak manyadarkan dan memberi edukasi yang tidak saya temukan atau bahkan dipelajari dikelas sekali pun, sesuai dengan yang dikatakan oleh Allbert Einsten bahwa jalan menuju tahu akan sesuatu itu, bisa diperoleh dengan dua jalan. Jalan ilmu, yaitu salah satunya dengan belajar disekolah, bergerak aktif diruang-ruang diskusi yang progresif dan masih banyak yang lainnya. Jalan yang kedua, bisa diperoleh dengan pengalaman, yaitu salah satunya dari kegagalan, kesuksesan, tuntutan realitas, tanggung jawab dikeluraga, dan masih banyak lagi pastinya.
Saya akan sangat merasa bahagia sekaligus istimewa bilamana saat-saat mengenang momen ketika fase putih abu tersebut, teringat ha-hal yang membuat saya berproses sampe bisa bertahan didetik ini, seperti halnya ketika saya belajar berkelompok dengan kawan-kawan saya, untuk memecahkan suatu materi yang kompleks dan konstruktif, atau bahkan hanya sekedar diskusi kecil-kecilan dikantin sembari ngemil permen karet bersama kawan-kawan saya, dengan tema diskusi bincang isu-isu terkini, semisal pada saat itu lagi viral-viralnya polemik peraturan sekolah yang kurang objektif out putnya, atau isu nasional seperti halnya maraknya pejabat yang korupsi, dan masih banyak yang lain pastinya.
Kemudian momen yang tidak kalah menariknya pada saat itu, yaitu ketika saya belajar matematika, yang mana pada saat itu,bahkan sampe saat ini pun, rasanya sangat sukar sekali untuk memahami sekaligus mengerti secara utuh mata pelajaran matematika. Dari mulai matriks yang membuat saya elegi, rumus pythagoras segi tiga yang membuat saya dan kawan-kawan muak sampai ada diantara kawan saya yang pura-pura ke WC, tapi tidak masuk kelas lagi. Namun satu hal yang saya dapatkan dari materi pelajaran matematika tersebut, yaitu perihal ke objektifitassannya secara akurat dan tepat, yang mana untuk menempuh starata akurat dan tepat itu harus melewati proses, yang namanya perhitungan dan analisis logika murni yang sehat, sampai pada akhirnya nanti berbuah hasil yang akurat dan tepat. Selain itu juga yang membuat saya terus berupaya untuk bisa mengerti dan paham perihal mata pelajaran matematika itu sendiri, tidak lain dan tidak bukan karena motivasi yang di utarakan oleh guru matematika saya, dari mulai kesabaran beliau yang tidak pernah pudar atau pun semu disetiap hari-hari yang saya dan kawan-kawan saya lewati bersama, bahkan saya pun tabik terhadap beliau. Dengan momen itu semua, saya mulai mengakui dan mengerti, bahwasannya memang benar sekali guru itu merupakan salah orang yang sangat mulia, bahkan jasanya pun tidak bisa terbayar hanya dengan moril dan materil semata.
Momen yang tidak kalah menariknya juga, yaitu ketika saya dengan kawan-kawan pergi ke perpustakaan sekolah, yang mana pada saat itu, semangat membaca buku kami sangat tinggi, semisal dari membaca buku-buku yang bergenre ilmu pengetahuan alam, umum, atau yang paling diminati oleh kawan-kawan perempuan, yaitu novel roman dan majalah dewasa sekalipun. Maka dengan demikian saya dan kawan-kawan, tidak jarang saking nikmatnya membaca buku, sampe ketiduran atau yang paling ironisnya lagi yaitu, telat masuk pelajaran. Tapi untungnya guru mata pelajaran kami saat itu memaafkannya, dan beliau berpesan agar tidak terulang lagi untuk kedua kalinya. Dari momen itu pun saya belajar bahwa kebaikan yang berlebihan pun tidak baik, dan pastinya harus sesuai waktu yang tepat dan akurat.
Sebetulnya masih banyak sekali kenangan-kenangan (momen) yang saya alami, namun semua menyatu dalam satu momen yang bahagia dan haru sekali pokoknya pada saat itu. Yaitu momen perpisahan sekolah, dulu saya sempat berfikir bahwa kejadian waktu itu, adalah kejadian yang sangat tragis dan penuh dengan kesedihan sekaligus kekecewaan yang mendalam bagi saya, karena rasanya sangat sukar sekali untuk saya berpisah dengan kawan-kawan seperjuangan pada saat itu, kawan-kawan dan guru yang membuat saya bisa berproses sampai detik ini, mereka-mereka yang mendukung saya, ketika saya mulai pesimis dengan proses yang sudah saya bangun, mereka-mereka yang terus memotivasi saya untuk maju melawan segala elegi yang membelenggu diri, bahkan kami pun sudah seperti keluarga besar yang setiap harinya penuh dengan ornamen-ornamen kehidupan. Tapi saya sadar dan harus menerima takdir tersebut dengan hati yang sangat tabah, walaupun rasanya berat sekali untuk menerima kenyataan momen itu, bahwa disetiap pertemuan pasti ada perpisahan, sesuai dengan lirik lagu yang kita nyayikan bersama saat itu dengan linangan air mata yang penuh haru.
Akhirnya seiring berjalannya waktu, setelah momen itu saya berpesan kepada semua kawan-kawan saya, bahwasannya "Dimanapun kalian berada, tetaplah menjadi diri sendiri dengan versi terbaikmu, jangan sesekali kalian menyerah dengan keadaan atau bahkan menghamba pada ketakukan, karena pada dasarnya semua proses yang kita lakukan, walaupun secara perlahan, pasti ada hasilnya dan pastinya tidak akan ada yang sia-sia. Sukses selalu kawan-kawan ku, mari hidup dengan kuat, sudah waktunya kita menghargai hidup kita sesndiri" Lirihku sambil terbata-bata dan dengan mimik wajah yang penuh dengan kepedulian.
"Hakikatnya, kita semua tidak pernah ditinggalkan atau kehilangan akan sesuatu didunia ini, itu semua hanya diri sendirilah yang belum bisa menerima kenyataan dari yang maha kuasa"
Salam Hanngat dari kawanmu Ali Rido, 20 November 2023

Komentar