Seperti yang anda ketahui

Persfektip saya pribadi, belajar adalah suatu proses memahami, menyimak, berfikir, bertindak dan mengoreksi kembali dari sebuah topik atau materi yang telah disajikan tentang apa saja kiranya kurang lengkap atau perlu diperbaiki sekalipun. Dalam hal ini, perlu kita pahami bersama bahwa, belajar merupakan langkah wajib yang harus manusia lakukan, disamping kewajiban itu pula, hasil daripada belajar itu sendiri harus terimplementasikan terhadap kehidupan sehari-hari. Dengan belajar manusia bisa hidup terarah dan penuh dengan makna dan tujuan yang benar-benar jelas referensinya, dengan belajar pula manusia bisa berkembang dan menggapai kebutuhannya tanpa harus termanipulatif oleh oknum manusia lainnya.

Secara teoritis, setiap manusia harus secara individual menemukan dan mengubah informasi yang kompleks menjadi sederhana dan bermakna agar menjadi miliknya, ungkapan ini ada dalam teori belajar konstruktivistik yang mana setiap manusia yang berada dalam proses pembelajaran, ia harus bisa mengurai sesuatu yang sulit menjadi mudah, yang mana hal ini akan memudahkan dirinya untuk menyelesaikan hal-hal yang kompleks. dengan demikian dalam teori konstruktivistik terdapat beberapa prinsi dalam belajar, diantaranya yaitu sebagai berikut:

              I.     Pengetahuan dibangun oleh manusia itu sendiri, baik secara personal maupun sosial

            II.     Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari manusia satu kepada manusia lainnya, terkecuali manusia itu sendiri berupaya untuk menalar

         III.     Manusia yang aktif mengonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap dan pastinya ilmiah

         IV.     Manusia satu sekedar membantu manusia lainnya dengan menyediakan sarana dan sistuasi agar proses konstruksi belajar berlangsung secara efektif dan efisien

Dalam prinsip belajar diatas sudah jelas sekali bahwa proses belajar bukan kegiatan memindahkan pengetahuan dari manusia satu kepada manusia lainnya, melainkan kegiatan yang mengharuskan manusia lainnya untuk membangun pengetahuannya sendiri, oleh karena itu proses belajar berarti berpartisipasi dengan manusia lainnya dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan dan bersikap kritis.

            Karena memang situasi dan kondisi manusia itu berbeda-beda, oleh karena itu pula proses belajarnya pun akan berbeda-beda, walaupun dari seorang fasilitator yang sama sekalipun, bukan tanpa sebab, mereka berbeda bisa dengan beberapa sebab, ada yang dibentuk dari keluarga, budaya, lingkungan, pengalaman, dan yang lainnya. Begitupun dalam realitasnya saat ini, manusia lebih memilih sesuatu tanpa belajar, mayoritas mereka bertindak tanpa dasar, sehingga seringkali terdapat ironi yang sangat signifikan, dari hilangnya berfikir kritis, sampai mengutamakan hidup konsumtif daripada produktif.

            Dua realitas diatas merupakan ironi yang sukar untuk kita pungkiri, bagaimana tidak diera yang serba canggih ini, justru menimbulkan banyak sekali penyimpangan dan kesenjangan, padahal jika dianalisa secara aktual, era kontemporer lebih banyak akses untuk terus belajar dan pastinya progresif, akan tetapi faktanya malah sebaliknya. Problematika ini selaras dengan teori kritik terhadap zaman modern, yang diungkapkan oleh jurgen habermas, seorang akademisi sekaligus tokoh intelektual terkemuka asal jerman, yang mengungkapkan bahwa diera modern banyak sekali orang berilmu pengetahuan akan tetapi ilmu pengetahuan itu tidak bisa membentengi dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif dan dikecam oleh ilmu pengetahuan tersebut, jurgen habermas menyebutkan dengan istilah “Mandul Dalam Pra
ksis

            Problematika ini masif terjadi dimana-mana, sampai lembaga pendidikan pun terbawa arus dengan penyakit mandul praktis tersebut, bagaimana tidak tupoksi daripada fasilitator-fasilitator yang harusnya mendidik jiwa dan raganya peserta didik, harus disibukan dengan urusan administrasi sekolah, bahkan mereka malah berlomba-lomba untuk naik jabatan dengan cara-cara yang menyimpang. Hal ini menjadi ironi bagi negeri tercinta ini, negeri yang sebetulnya masih seumur jagung setelah terjajah oleh kolonialisme. Sayangnya sekarang malah terjajah oleh  saudara sebangsa dan setanah air sendiri, dari mulai konflik kepentingan, oligarki, sampai dengan merusak aset negeri.



Komentar